Senin, 31 Oktober 2011



Apa boleh buat. Mereka harus pindah. Mungkin ini yang dinamakan pengorbanan sebuah generasi untuk angkatan berikutnya. Sehingga penduduk 8 buah desa dikecamatan Riam Kanan (Kalsel), bukan saja harus angkat kaki dari desa kelahiran mereka, tetapi juga harus cukup tahan hati untuk melihatnya tenggelam selama-lamanya dari permukaan bumi. Yang mungkin tidak tertahankan baik air-mata mereka tentulah harus berpisah dengan tulang-belulang para leluhur dan handai- taulan di dalam kuburan di dekat masing- masing desa. Untuk memindahkannya tentulah tidak sesulit merenunginya, sebab segala perabot, berikut rumah dan ternak saja sudah cukup melinukan tulang-belulang yang masih segar. Maka hanya maaf belaka bagi roh para almarhum itu, sebab Proyek Pembangkit Listerik Tenaga Air (PLTA) Riam Kanan menuntut segalanya ditenggelamkan. Desa-desa yang menuju tenggelam di kabupaten Banjar itu adalah Manunggul (166 jiwa), Rantau Bujur (562 jiwa), Rantau Alayung (438 jiwa), Rantau Balai (314 jiwa), Bunglai (637 jiwa), Kalaan (779 jiwa), dan Tiwingan (756 jiwa). Meski pemindahan itu sudah di canangkan sejak keluarnya sk Bupati bertanggal 29 Januari 1962, tetapi menjelang kedatangan Menteri PUTL Ir Sutami 8 Juli 1972 lalu, baru disadari sepenuhnya oleh penduduk di sana, bahwa mereka harus segera memboyong barang- barang milik ke tempat baru, di sekitar bukit beberapa kilometer dari tempat semula. Dan begitu pimpinan proyek Ir Suminto melaporkan di hadapan Menteri, bahwa air telah mencapai ketinggian 30 meter, penduduk serentak teringat kembali pada tempat penampungan itu, uang penggantian tanah dan tanaman. Sehingga terbayanglah riwayat pengungsian mereka. Kacamata terbaru. Istilah "uang cacing" mulai menjalar pada saat penduduk ke--8 desa tadi menerima uang penggantian, berdasarkan nilai hak-miliknya. Tidak heran, bahwa para petani yang selama hidupnya hanya sempat mengantongi uang seperak- dua dari jerih payah kerja berbulan-bulan sepanjang tahun, tiba-tiba lupa lautan melihat jumlah uang-cacing alias uang pindah yang dibagikan pemerintah kecamatan. Lembaran-lembaran bergambar Sudirman itu menerangkan angka-angka nol yang tidak sedikit, jumlah yang sebelumnya hampir tak terpikirkan akan dapat mereka kantongi. Tetapi hanya beberapa hari setelah itu, uang tadi sudah berpindah ketangan para pedagang di pasar Batuah dan Suka Ramai, Martapura. Sehingga ketika penduduk desa di sekitar Riam Kanan itu kembali ke kampung lagi, dengan wajah berseri-seri di tangan mereka telah terjinjing radio transistor, lampu-lampu stormlking, jaket, kaus nilon atau kacamata model paling baru dan semua benda yang artinya cuma satu: melepaskan semua keinginan yang hanya untuk memikirkannya saja hampir tak mampu mereka lakukan sebelumnya. Tetapi itu masih belum semuanya. Deretan bangku di bioskop Berlian Martapura waktu film India dan silat Hongkong diputar, sempat pula kebagian rezeki menadah pantat orang-orang dari desa yang barusan menerima "uang cacing". Lanjutannya masih pula: hari-hari pesta uang usiran itu lebih diriuhkan lagi oleh suara transistor yang untuk sebuah rumah gubuk tiba-tiba diisi oleh dua, bahkan tiga buah radio. Bukankah masing-masing penghuni gubuk punya lainlain kesenangan? Si bapak suka lagu Melayu, tetapi si ibu lebih senang menyetel lagu-lagu qasidahan. Dan seterusnya. Gadung. Dan: untunglah Ir Sutami datang. Maka sadar kembalilah para penerima "uang cacing" tadi, bahwa mereka harus cepat berbenah, mengangkut semlta yang ada dan mulai hidup baru di tempat lain. Alhasil, radio transistor dan lampu petromak-pun harus 3 kembali lagi kepasar-pasar loak Martapura dengan harga bantingan, demi memikirkan bagaimana mengangkut hak milik, membeli paku dan semua kebutuhan di tempat baru. Dan sewaktu deretan penduduk itu meninggalkan kampung mereka yang lama, pemandangan tidak lebih dari ini: orang- orang yang baru usai berpesta ria dan telah kehilangan hampir semua miliknya dalam pesta itu. Di tempat baru, ada lagi. Sementara uang-cacing benar-benar telah menjadi makanan cacing, panen yang di harap ternyata tidak secepat keinginan untuk melahapnya. Jadinya, banyak yang harus meminta maaf kepada keronkongan masing-masing untuk menelan gadung karena tak mampu lagi membeli beras. Tahu gadung? Sejenis umbi hutan yang pahit bukan main dan hanya mampu di olah lipatan usus kalau sudah direndam berhari- hari di dalam sungai. Tetapi apaboleh buat. Nasib baik hanya menimpa (bekas) penduduk desa Tiwingan, karena kepala desanya sudah sejak pagi-pagi mengajak rakyatnya bersiap-siap di tempat baru sehingga begitu mereka pindah, hasil panen dan rumah banl telah menunggu dengan ramahnya. Meski begitu nasib sebagian besar lainnya tentulah ini pula: bagaimana melawan tantangan padang lalang dan bukit cadas di tempat baru itu, setelah di tempat lama, segala kesuburan telah tenggelam dalam proyek Riam Kanan.

Tagged: , , ,

0 komentar:

Poskan Komentar